Compounding Interest : Keajaiban Dunia Ke-8
Dahulu para orang tua selalu mengajarkan agar kita rajin menabung karena ada jargon "menabung pangkal kaya". Tidak keliru memang, namun sepertinya sudah kurang relevan jika diterapkan di zaman sekarang mengingat suku bunga tabungan yang hanya berkisar 1-2% saja per tahunnya, mungkin jika ditaruh di deposito masih lumayanlah dengan bunga deposito 3-6% per tahun sehingga uang kita masih bisa untuk bertambah kedepannya meskipun belum tentu bisa mengalahkan atau menyamai tingkat inflasi.
Kemudian jika menabung di bank sudah tidak menguntungkan, alih-alih mengharapkan uang kita bertambah dari bunga bank namun kita kadang lupa bahwa kita dikenakan biaya administrasi perbulannya yang kadang biaya nya lebih besar dari bunga bank yang kita peroleh, alhasil bukannya bertambah yang ada malah tabungan kita akan semakin tergerus nilainya.
Lantas, bagaimana caranya agar uang kita bisa terus bertumbuh? Banyak jalan yang bisa ditempuh, salah satunya adalah dengan cara berinvestasi di instrumen keuangan, seperti saham misalnya. Menurut data, saham adalah salah satu instrumen investasi yang mampu memberikan imbal hasil tertinggi dibanding instrumen investasi lainnya dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 15-20%. Nilai investasi kita bisa terus bertumbuh dan menjadi besar jika kita memahami konsep dari compounding interest. Salah satu tokoh ilmuwan paling terkenal di dunia yaitu Albert Einstein pernah mengatakan bahwa compounding interest adalah keajaiban dunia ke-8 karena "keajaiban faktor kali" nya.
Kemudian apa itu compounding interest?
Compounding interest adalah salah satu konsep pertumbuhan bunga majemuk/bunga berbunga yang mengakumulasikan bunga yang diperoleh sebelumnya ditambahkan dengan nilai pokok investasi untuk selanjutnya di investasikan kembali untuk memperoleh bunga berikutnya. Jadi, setiap memperoleh bunga/profit pada suatu periode maka bunga/profit tersebut akan ditambahkan dengan nilai pokok investasi sebelumnya untuk selanjutnya menjadi nilai pokok investasi yang baru (nilai pokok+bunga), sehingga jika dilakukan secara terus-menerus dan konsisten maka akumulasi profit/bunga yang diperoleh akan menjadi semakin besar dan bisa lebih besar dari nilai pokok investasi awal itu sendiri. Itulah salah satu kunci kenapa orang-orang terkaya di dunia bisa melipatgandakan asetnya, itu karena mereka mampu menerapkan konsep compounding interest dengan sangat baik.
Salah satu contoh orang terkaya di dunia tersebut adalah Warren Buffet yang berhasil menjadi orang nomor 1 terkaya di dunia pada tahun 2008 versi majalah forbes dengan nilai kekayaan saat itu sekitar US$ 62 miliar (sekitar 562,8 triliun), yang berhasil menjadi orang terkaya hanya dari investasi saham. Sebagai seorang investor saham, Warren Buffet yang dikenal sebagai bapak investor saham sangat mempercayai keajaiban faktor kali dari compounding interest dan berhasil menerapkannya secara terus-menerus dan konsisten. Itu terbukti karena menurut Warren Buffet dirinya hanya menghasilkan profit rata-rata 20% per tahunnya, namun karena keajaiban faktor kali tersebut maka nilai investasi nya semakin lama menjadi besar karena akumulasi dari profit ditambah nilai pokok investasi nya.
Berikut rumus dari compounding interest :
Lalu bagaimana sih caranya compounding interest bekerja? Ok penulis akan coba contohkan simulasi perhitungan nya sebagai berikut :
Aditya adalah seorang karyawan yang saat ini berusia 25 tahun yang bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Kemudian setelah mengenal investasi saham, dia berkomitmen untuk menyisihkan sebagian gaji yang diperolehnya setiap bulan untuk di investasikan di saham sebesar 1 juta rupiah atau 12 juta per tahunnya dengan modal investasi awal senilai 10 juta rupiah. Harapannya, ketika usia nya mencapai 50 tahun nanti dirinya sudah memiliki sejumlah dana pensiun sehingga sudah tidak perlu lagi bekerja yang itu artinya Aditya masih memiliki waktu 25 tahun untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Di atas sudah disebutkan, bahwa investasi saham secara umum menghasilkan imbal hasil rata-rata 15-20% per tahunnya. Anggap lah kita ambil yang paling konservatif yaitu 15%, maka berapakah nilai investasi Aditya 25 tahun mendatang?
Dan ternyata hasilnya sangat luar biasa, dengan hanya rutin investasi 1 juta per bulan saja selama 25 tahun maka di tahun ke-25 atau ketika usia Aditya 50 tahun maka Aditya sudah memiliki dana pensiun sekitar 3,2 miliar rupiah dengan nilai pokok investasi hanya 310 juta rupiah saja.
Kemudian katakan Aditya ini cukup jago dalam berinvestasi saham sehingga bisa menghasilkan profit 20% per tahunnya atau lebih tinggi 5%. Dengan jumlah nominal investasi dan jangka waktu yang sama kita coba lihat hasilnya :
It's amazing!! dengan hanya menaikkan imbal hasil 5% saja dari 15% menjadi 20% ternyata perbedaan hasilnya sangat signifikan. Di tahun ke-25 Aditya memiliki dana pensiun sebesar 7,7 miliar rupiah alias 2x lipat dari Aditya hanya mampu menghasilkan 15% (3,2 miliar). Dengan dana pensiun segitu sih, Aditya sudah bisa hidup tanpa bekerja lagi dengan gaya hidup yang lumayan dan bisa hidup santai di usia yang masih lumayan muda (50 tahun gak tua-tua amat hehe).
Kemudian perhatikan, dengan imbal hasil 15% per tahun maka di tahun ke 8 profit yang diperoleh sudah jauh lebih besar dibandingkan nilai pokok investasinya (114 jt vs 106 jt), apalagi jika berhasil memperoleh profit rata-rata 20% per tahun maka di tahun ke-6 profit yang diperoleh sudah lebih besar dibanding nilai pokok investasi itu sendiri (90 jt vs 82 jt).
Simulasi ini di asumsikan jika Aditya hanya menyetor 1 juta terus selama 25 tahun, namun kenyataannya bisa saja di tahun-tahun berikutnya Aditya tidak hanya menyetor sekedar 1 juta melainkan naik 500 ribu setiap tahunnya karena normalnya karir Aditya meningkat sehingga gaji yang diterima pun meningkat dan alhasil setoran investasi pun ikut meningkat. Jika hal tersebut terjadi, maka di usia 50 tahun, hampir dipastikan nilai investasi Aditya akan jauh lebih besar dari sekedar 7,7 miliar dikarenakan akumulasi profit dan nilai pokok investasinya pun ikut meningkat setiap tahunnya.
Oke, sekarang kita coba pakai contoh lain misalnya Deby juga adalah seorang karyawan swasta dan rutin berinvestasi juga di saham 1 juta setiap bulannya, namun Deby memulai investasinya di umur "30 tahun" alias terlambat 5 tahun dari Aditya, namun sama dengan Aditya, Deby juga ingin pensiun di umur 50 tahun yang artinya Deby cuma punya waktu 20 tahun berinvestasi, kita coba lihat hasilnya :
Dengan imbal hasil 15% per tahun, setelah 20 tahun maka nilai investasi Deby di usia 50 tahun hanya senilai 1,5 miliar atau hanya setengahnya dari nilai investasi Aditya. Katakan Deby lebih jago dalam berinvestasi saham sehinggga bisa menghasilkan imbal hasil rata-rata 25% per tahun, lebih expert dari Aditya yang hanya bisa menghasilkan 20%, maka setelah 20 tahun nilai investasi Deby adalah :
Sebesar 6 miliar rupiah. Meskipun Deby mampu menghasilkan imbal hasil lebih tinggi daripada Aditya namun tetap nilai investasi Aditya lebih besar daripada Deby meskipun Aditya hanya menghasilkan rata-rata imbal hasil 20% (7,7 miliar vs 6 miliar). Jika Deby ingin menyamai hasil investasi Aditya pilihannya ada 3 yaitu meningkatkan setoran investasi per bulannya tidak hanya sekedar 1 juta melainkan harus lebih besar daripada Aditya misalnya 1,5 juta per bulan, kemudian pilihan ke-2 meningkatkan rata-rata imbal hasilnya lebih dari 25% (yang ini jauh lebih susah sepertinya) dan pilihan yang terakhir yaitu memperpanjang jangka waktu investasinya katakan lah 3 tahun sehingga Deby baru bisa pensiun di umur 53 tahun atau 3 tahun lebih lama dari Aditya.
Nah, dari ke 4 simulasi tersebut bisa kita lihat bahwa "memulai di usia yang lebih muda" kemudian "jangka waktu yang panjang" dan "tingkat persentase profit" sangat berperan penting dalam bekerja nya compounding interest dan perjalanan investasi itu sendiri. Warren Buffet pernah berucap bahwa "waktu adalah teman terbaik bagi seorang investor saham" .Sekali lagi, kunci dari compounding interest ini adalah "konsisten" karena dengan ke konsistenan lah sistem bunga berbunga bisa bekerja.
Kemudian satu lagi yang perlu di catat, semakin cepat kita memulai investasi saham di usia muda, semakin besar potensi kita untuk bisa meningkatkan dan memaksimalkan nilai investasi di masa yang akan datang sehingga kita bisa financial freedom di usia yang masih terbilang muda, karena mau berinvestasi saham ataupun tidak, kita akan menjadi tua dengan sendiri nya. Tinggal pilih ketika nanti beranjak tua mau terus bekerja untuk uang karena tidak punya aset investasi atau mau hidup tenang dan santai sambil menimang cucu karena uang yang terus bekerja untuk kita dengan "keajaiban faktor kali" 😊.


.jpeg)


Mantap pak Reds, terus berkarya dan menginspirasi...😅👍
BalasHapushaha siapp Pak, iseng aja pak belajar nulis
HapusMantapsss, sebuah motivasi bagi anak muda untuk bisa menyisihkan uangnya untuk diinvestasikan dibanding untuk berpoya - poya bersama teman.
BalasHapus