PER & PBV : 2 Metode Sederhana Dalam Valuasi Saham (Part 2)
Di tulisan sebelumnya kita sudah belajar mengenai PER, boleh baca lagi tulisannya di sini. Selain PER ada lagi satu teknik analisa fundamental yang sama pentingnya untuk diketahui dan dipelajari oleh seorang investor yaitu metode valuasi dengan pendekatan PBV.
Lalu apa itu PBV rasio? PBV merupakan singkatan dari Price to Book Value atau rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan. Konsepnya sama seperti PER yaitu untuk mengetahui mahal/murahnya valuasi sebuah saham. Perbedaannya jika PER menggunakan laba bersih (earnings) sebagai hitungan pembaginya sehingga dihasilkan nilai EPS (Earning Per Share) atau laba bersih per saham, sedangkan dalam PBV menggunakan ekuitas/modal bersih perusahaan sebagai hitungan pembaginya sehingga dihasilkan nilai BVPS (Book Value Per Share) atau nilai buku per saham. Rasio PBV berguna bagi investor untuk mengetahui seberapa mahal/murah suatu saham jika dibandingkan dengan nilai buku perusahaan tersebut dan seberapa kali lipat investor berani menghargai saham tersebut dibandingkan nilai buku nya. Adapun rumus untuk menghitung PBV adalah sebagai berikut :
Untuk menghitung PBV sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dulu nilai buku per lembar sahamnya atau BVPS. Nilai buku perlembar saham di dapat dari :
Jadi untuk mendapatkan nilai BVPS langkah pertama adalah kita harus mencari nilai ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, untuk kemudian dibagi dengan jumlah saham beredar yang diterbitkan oleh perusahaan sehingga akan diperoleh nilai buku bersih per lembar. Nilai ekuitas dan jumlah saham beredar dapat kita temukan di laporan keuangan bagian neraca pada kolom ekuitas. Sebagai contoh kita akan coba untuk menghitung BVPS ASII berdasarkan laporan keuangan kuartal 3 2023 :
Nah seperti yang sudah penulis lingkari kita bisa memperoleh informasi bahwa pada kuartal 3 2023 nilai ekuitas bersih ASII adalah 190,7 triliun, kemudian jumlah saham beredar yang diterbitkan oleh perusahaan adalah sebanyak 40,4 milyar lembar sehingga untuk perhitungan BVPS nya adalah sebagai berikut :
Ekuitas pemilik entitas induk : 190.789.000.000
Jumlah saham beredar : 40.483.553.140
Nilai buku per lembar : 4.712,75
Dari perhitungan data di atas, diperoleh bahwa BVPS ASII pada kuartal 3 2023 adalah sebesar 4.712,75 per lembar saham. Setelah mendapatkan nilai BVPS barulah kita hitung PBV nya dengan cara berikut :
Harga saham 13/02/2024 : 5.200
Book Value Per Share : 4.712,75
PBV : 1,10
Dengan harga penutupan ASII pada tanggal 13 Februari 2024 di 5.200, maka dengan BPVS 4.712,75 di peroleh nilai PBV ASII sebesar 1,10x. Cara membaca nya sama seperti PER yaitu dihitung dalam satuan kali. Jika seorang investor membeli saham ASII pada harga 5.200 itu artinya investor tersebut berani membayar ASII 1,10x lipat dari nilai buku bersih nya. Tentu jika harga saham ASII kemudian lanjut naik katakan ke 6.000 per lembarnya maka PBV nya bukan 1,10x lagi melainkan 1,27x yang artinya jika investor membeli ASII ini di harga 6.000 maka ia berani membayar ASII 1,2x lipat dari nilai buku nya. Jadi teorinya semakin tinggi harga saham namun BVPS nya tetap maka semakin mahal PBV saham tersebut. Secara umum suatu saham bisa dikatakan murah dan menarik apabila memiliki PBV <1x yang artinya harga saham tersebut lebih rendah daripada nilai buku per lembarnya. Namun tentu, untuk saham-saham yang memiliki kinerja keuangan yang sangat bagus maka hampir sulit untuk mendapatkan nilai PBV nya dibawah 1, ya contohnya seperti ASII ini yang dimana untuk perusahaan sebagus ASII maka dengan PBV 1-1,5x pun bisa dikatakan murah karena memiliki fundamental yang solid dan kinerja nya senantiasa tumbuh dari waktu ke waktu.
Biasanya saham yang memiliki nilai PBV <1x adalah perusahaan yang tidak terlalu populer namanya dan kinerja nya juga biasa-biasa saja atau malah perusahaannya sedang merugi sehingga investor pun tidak berani menghargai PBV saham tersebut lebih tinggi. Namun terkadang peluang investasi justru terdapat pada saham-saham yang PBV nya kurang dari 1x, dimana karena sejak awal harga sahamnya sudah murah karena lebih rendah dari nilai buku per lembarnya, maka ketika perusahaan berhasil memperbaiki kinerja laporan keuangannya, maka biasanya sahamnya akan langsung di apresiasi oleh pasar dan tidak jarang mendekati PBV 1x. Itu artinya jika seorang investor berhasil membeli saham pada PBV 0,5x dan menjual saham tersebut pada PBV 1x, maka investor tersebut berhasil menjual saham tersebut dengan keuntungan 100%.
Jadi kesimpulannya PBV ini sama pentingnya seperti PER, dimana PBV ini sangat membantu seorang investor agak tidak terjebak membeli saham yang valuasi nya terlalu tinggi/mahal. Tentu idealnya seorang investor harus bisa membeli saham dengan PER dan PBV yang rendah, karena dengan kombinasi tersebut maka peluang untuk memperoleh keuntungan di saham bisa lebih maksimal.




Masuk pak reds
BalasHapus