Mengenal Indeks LQ45

 



Dear Sobat Investor!

Jika pada postingan sebelumnya kita sudah berkenalan dengan IHSG (yang belum tahu apa itu IHSG bisa baca di sini ), yang merupakan indeks utama di Bursa Efek Indonesia, kali ini kita akan kembali berkenalan dengan salah satu indeks yang ada di BEI yaitu indeks LQ45. Perlu diketahui bahwa selain IHSG di BEI terdapat beberapa indeks lain yang biasa dijadikan acuan oleh para investor dalam berinvestasi saham. Jika IHSG adalah indeks yang menggambarkan kondisi pasar secara keseluruhan, maka indeks yang lain lebih menggambarkan kondisi kinerja dari saham-saham yang terdaftar atau menjadi anggota di dalam indeks tersebut. 

Adapun beberapa indeks selain IHSG yang terdaftar di BEI antara lain Indeks LQ45 (yang akan kita bahas), IDX 30, IDX 80,  Indeks Saham Syariah (ISSI), Jakarta Islamic Indeks (JCI), IDX BUMN 20, Kompas 100, Bisnis 27, IDX High Dividen 20, SRI-KEHATI, MNC 36, Investor 33, dan masih banyak lagi indeks lainnya yang kurang lebih jumlahnya ada 40 indeks termasuk indeks per sektor seperti indeks sektor energi, infrastruktur, konsumer, keuangan dan indeks sektor lainnya.

Di tulisan sebelumnya dimana penulis bercerita pengalaman pertama kali membeli saham (bisa di baca di sini), waktu itu penulis membeli saham hanya berdasarkan rekomendasi orang lain tanpa melihat fundamental atau kinerja dari perusahaan tersebut yang akhirnya penulis harus merasakan kerugian untuk pertama kalinya karena tidak tahu saham perusahaan apa yang di beli, bagaimana kinerjanya, sehingga akhirnya ketika saham tersebut harganya turun membuat penulis panik dan akhirnya saham tersebut dijual dalam posisi rugi. Waktu itu penulis belum mengetahui bahwa ternyata selain IHSG ada indeks lain yang bisa membantu kita sebagai pemula dalam memilih saham yang sudah di seleksi oleh BEI yaitu indeks LQ45. 

Jadi apa itu indeks LQ45? 

Indeks LQ45 adalah indeks yang dimana dalam indeks tersebut berisi 45 saham pilihan yang sudah melalui proses seleksi yang sangat ketat dan memiliki likuiditas perdagangan yang tinggi. Maksud dari likuiditas perdagangan yang tinggi adalah saham tersebut memiliki rata-rata transaksi harian yang besar sehingga saham tersebut mudah untuk di perjual belikan sehingga memberikan kemudahan investor dalam melakukan transaksi jual-beli saham tersebut. Selain itu, tentunya terdapat beberapa kriteria lainnya selain likuiditas perdagangan yang tinggi yaitu seperti kapitalisasi pasar (nilai perusahaan), kondisi fundamental perusahaan, prospek pertumbuhan bisnis perusahaan kedepannya dan kriteria yang lainnya. 

Indeks LQ45 pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977 tepatnya pada bulan Februari oleh Bursa Efek Indonesia. Dalam perjalanannya indeks ini akan di review dan di evaluasi setiap 6 bulan sekali yaitu pada periode Februari-Juli dan Agustus-Januari. Jadi dalam periode tersebut akan ada saham yang keluar dari indeks LQ45 dimana saham tersebut sudah tidak memenuhi kriteria yang kemudian akan digantikam oleh saham lain yang tentunya memenuhi kriteria untuk masuk ke indeks LQ45. 

Apa tujuannya dibuat indeks LQ45?

Indeks LQ45 dibuat dengan bertujuan untuk memilih 45 saham terbaik dan ter likuid yang merupakan bagian dari penggerak IHSG, sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan atau analisis investor dalam setiap keputusan investasi dan juga merupakan sarana yang objektif dan terpercaya. Lalu indeks ini juga bisa dijadikan sebagai alat bantu investor dalam memantau pergerakan harga saham di BEI dan pembentukan portofolio seorang investor. Kemudian khususnya untuk para investor pemula yang baru terjun ke pasar modal, indeks LQ45 ini sangat berguna sebagai langkah dan pijakan awal dalam pemilihan saham sehingga bisa meminimalisir kesalahan dan tidak terjebak membeli saham perusahaan busuk gak jelas yang akhirnya akan merugikan investor pemula tersebut. 

Lalu saham perusahaan apa saja yang sekarang ini masuk dalam Indeks LQ45?

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, untuk periode Agustus 2023 sampai dengan Januari 2024 saham yang masuk dalam anggota Indeks LQ45 adalah sebagai berikut :

 1. ACES              PT. Ace Hardware Indonesia Tbk.
 2. ADRO             PT. Adaro Energy Tbk.
 3. AKRA             PT. AKR Corporindo Tbk.        
 4. AMRT             PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk.
 5. ANTM             PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk.
 6. ARTO              PT. Bank Jago Tbk.
 7. ASII                 PT. Astra International Tbk.
 8. BBCA              PT. Bank Central Asia Tbk.
 9. BBNI               PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
10. BBRI              PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
11. BBTN             PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
12. BMRI             PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.
13. BRIS               PT. Bank Syariah Indonesia Tbk.
14. BRPT             PT. Barito PacificTbk.
15. BUKA            PT. Bukalapak.com Tbk.
16. CPIN              PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk.
17. EMTK            PT. Elang Mahkota Teknologi Tbk.
18. ESSA              PT. Surya Esa Perkasa Tbk.
19. EXCL             PT. XL Axiata Tbk.
20. GGRM           PT. Gudang Garam Tbk.
21. GOTO            PT. Go To Gojek Tokopedia Tbk.
22. HRUM           PT. Harum Energy Tbk.
23. ICBP               PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
24. INCO              PT. Vale Indonesia Tbk.
25. INDF              PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
26. INDY              PT. Indika Energy Tbk.
27. INKP              PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.
28. INTP               PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
29. ITMG             PT. Indo Tambangraya Megah Tbk.
30. KLBF             PT. Kalbe Farma Tbk.
31. MAPI             PT. Mitra Adi Perkasa Tbk.
32. MDKA           PT. Merdeka Copper Gold Tbk.
33. MEDC           PT. Medco Energi International Tbk.
34. PGAS             PT. Perusahaan Gas Negara Tbk.
35. PTBA            PT. Bukit Asam Tbk.
36. SCMA           PT. Surya Citra Media Tbk.
37. SIDO            PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
38. SMGR          PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk.
39. SRTG           PT. Saratoga Investama Sedaya Tbk.
40. TBIG            PT. Tower Bersama Infrastructure Tbk.
41. TLKM          PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk.
42. TOWR         PT. Sarana Menara Nusantara Tbk.
43. TPIA            PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk.
44. UNTR          PT. United Tractor Tbk.
45. UNVR         PT. Unilever Indonesia Tbk.

Nah, dari ke 45 saham tersebut adakah perusahaan yang sobat investor kenal atau mungkin pernah mendengar namanya? Penulis asumsikan sobat investor  pasti mengenal salah satunya (kebangetan banget kalo misalnya gak tahu Bank BRI 😁). Ya walaupun mungkin ada beberapa perusahaan yang mungkin sobat investor baru tahu ketika membaca tulisan ini dan namanya asing terdengar di telinga.

Selanjutnya bagaimana kinerja Indeks LQ45 ini dalam jangka panjang?

Berikut kinerja Indeks LQ45 dalam 18 tahun terakhir :


Bisa kita lihat bahwa dari tahun 2005 s/d Agustus 2023 Indeks LQ45 sudah mengalami pertumbuhan sebesar 310% alias tumbuh 3x lipat dan itu merupakan pertumbuhan yang luar biasa. Untuk informasi bahwa indeks LQ45 juga biasanya dijadikan tolok ukur/benchmark para Manajer Investasi untuk  target kinerja atau performa dalam mengelola reksadana. 

Nah, jadi kesimpulannya indeks LQ45 adalah indeks yang berisi 45 saham pilihan yang sudah di seleksi secara ketat dan memenuhi kriteria yang ditentukan dan perkembangannya selalu dipantau oleh Bursa Efek Indonesia baik itu dari segi likuiditas maupun fundamental perusahaannya. Indeks LQ45 bisa dijadikan referensi terutama bagi investor pemula yang kebingungan  dalam pemilihan saham ketika akan berinvestasi di pasar modal, yang tentunya juga dengan berinvestasi di LQ45, akan lebih memberikan rasa aman bagi investor pemula dan berpotensi memberikan return atau keuntungan yang stabil  dalam jangka panjang.

Berhubung tulisannya udah cukup puanjaaaanggg, (cape ngetiknya) dicukupkan sampai di sini dulu, semoga setelah membaca tulisan ini bisa mendapatkan sedikit gambaran mengenai indeks LQ45 dan membantu dalam pemilihan saham nantinya. (untuk indeks lainnya silahkan pelajari dan googling sendiri ya hehe)

Tapi eitss nanti dulu, sebelum memutuskan membeli saham kita harus mempelajari dan menganalisa terlebih dahulu saham yang akan kita beli dengan pendekatan metode analisis yang umum digunakan dalam investasi saham yaitu pendekatan analisis fundamental dan analisis teknikal agar kita mempunyai dasar yang kuat dalam menentukan saham mana yang tepat untuk kita beli. Di tulisan selanjutnya akan kita coba bahas ya. 


 





  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PER & PBV : 2 Metode Sederhana Dalam Valuasi Saham (Part 2)

Rasio-Rasio Dasar Dalam Analisa Laporan Keuangan (Part 1)

Earnings Yield : Cara Sederhana Mengetahui Imbal Hasil Dari Suatu Saham