Mengenal Bagian-Bagian Dari Laporan Keuangan Perusahaan (Part 2)

 


Karena di tulisan sebelumnya sudah cukup panjang (buat yang belum baca bisa baca di sini), dimana kita sudah berkenalan dengan salah satu bagian dari laporan keuangan yaitu neraca, kali ini penulis akan melanjutkan pembahasan bagian laporan keuangan yang berikutnya atau bagian kedua dari laporan keuangan perusahaan yaitu adalah laporan laba(rugi). Apa itu yang dimaksud dengan laporan laba(rugi)?
 
Jadi, Laporan laba(rugi) atau biasa disebut juga income statement, adalah laporan yang di terbitkan oleh perusahaan yang berisi rangkuman kegiatan operasional usaha perusahaan dimana dalam laporan laba(rugi) tercantum berapa pendapatan/penjualan dari produk/jasa yang dihasilkan perusahaan, kemudian biaya-biaya apa saja yang harus dibayarkan oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu (biasanya dalam periode bulanan, kuartalan, semester dan tahunan). Di Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) mewajibkan seluruh perusahaan yang telah tercatat di bursa untuk melaporkan laporan keuangannya setiap kuartal (periode 3 bulan) sekali, yaitu pada periode :
1. Januari-Maret (kuartal 1) 
2. April-Juni (kuartal 2) 
3, Juli-September (kuartal 3) dan
4. Oktober-Desember (kuartal 4)

Laporan laba(rugi) akan memberikan kita informasi mengenai seberapa besar pendapatan/penjualan yang diperoleh dan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang bersifat operasional ataupun non-operasional serta pajak kita dapat mengetahui apakah perusahaan memperoleh laba atau sebaliknya malah menderita kerugian. Dari laporan laba(rugi) tersebut pula kita bisa melihat faktor apa yang membuat perusahaan memperoleh laba atau menderita kerugian, sehingga bisa menjadi pertimbangan seorang investor sebelum memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.

Tentunya kita sebagai seorang investor hanya ingin berinvestasi di perusahaan yang menghasilkan laba bersih dari kegiatan/operasional perusahaannya (ya iyalah, ngapain juga cape-cape investasi di perusahaan yang rugi), sehingga modal yang kita investasikan bisa berkembang seiring dengan kinerja perusahaan yang terus bertumbuh dan terus menghasilkan akumulasi laba bersih setiap tahunnya yang pada akhirnya akan meningkatkan modal bersih/ekuitas perusahaan sehingga akan menambah kekayaan para pemegang sahamnya melalui kenaikan harga saham dan pembagian dividen. Sebaliknya, jika perusahaan terus-menerus menderita kerugian dari waktu ke waktu, maka jangankan membagi dividen kepada pemegang saham, mungkin untuk membayar gaji karyawan dan menutup biaya operasional saja tidak cukup (duitnya darimanaa???), pada akhirnya akan menurunkan modal bersih/ekuitas perusahaan yang lama-kelamaan akan habis karena digunakan untuk operasional dan membayar hutang perusahaan, sehingga dalam hal ini, kita sebagai investor celaka jika menginvestasikan uang kita di perusahaan yang demikian, karena bisa saja jika ekuitas perusahaan sudah habis maka kemungkinan terbesar perusahaan tersebut akan di likuidasi atau dipailitkan (baca : bangkrut) dan kita sebagai investornya hanya bisa gigit jari.

Nah, jika kemarin laporan neraca itu menggambarkan seberapa tebal isi dompet perusahaan, maka laporan laba(rugi) menggambarkan seberapa sering/seberapa banyak perusahaan mampu mengisi dompetnya sehingga isi dompetnya menjadi tebal dan seberapa efisien perusahaan mengerem pengeluarannya seminimal mungkin sehingga tidak banyak yang harus di keluarkan dari dompet. Karena percuma aja kan jika dompetnya banyak terisi tapi pengeluarannya banyak juga. Kembali lagi ke prinsip ekonomi : Mendapatkan penghasilan/keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya. Sudah barang tentu, perusahaan yang bagus adalah perusahaan yang nilai penjualannya besar dan meningkat dari tahun ke tahun, namun biaya yang dikeluarkan minimal sehingga laba bersih yang dihasilkan bisa maksimal dan terus bertumbuh setiap tahunnya.

Oke, kita langsung lihat saja contoh laporan laba(rugi) dari salah satu emiten yang terdaftar di BEI, yaitu laporan laba(rugi) PT Astra International (kode saham : ASII) periode kuartal 1 2023 yang diperoleh dari website BEI :


Kita bisa lihat dari contoh laporan laba(rugi) ASII, bahwa secara umum laporan laba(rugi) terdiri dari :

- Pendapatan/penjualan bersih

- Harga Pokok Penjualan (HPP) atau COGS

- Laba kotor

- Biaya operasional/non operasional (Beban penjualan, beban umum dan administrasi, beban keuangan    dan beban lain-lain)

- Laba operasi usaha/ Laba sebelum pajak penghasilan

- Beban pajak penghasilan

- Laba periode berjalan

- Laba komprehensif

- Laba peiode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk

- Laba per saham dasar/ Earning Per Share (EPS)

 Pendapatan/penjualan barang dan jasa adalah sumber utama pendapatan perusahaan. Seperti yang kita ketahui bahwa ASII adalah salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia dan merupakan pemimpin dengan pangsa pasar terbesar di sektornya (selain memproduksi kendaraan bermotor, ASII juga bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit, produsen alat berat, kontraktor pertambangan batubara, infrastruktur, suku cadang otomotif, keuangan, teknologi informasi dan digital printing) dalam hal ini memperoleh pendapatan dari kegiatan usahanya yaitu dari penjualan otomotif dan penjualan segmen usaha lainnya pada kuartal 1 2023 sebesar 82,9 triliun rupiah, meningkat bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yaitu kuartal 1 2022 sebesar 71,8 triliun rupiah. Tentu ini adalah suatu pencapaian penjualan yang bagus. Oh iya, sedikit catatan dalam laporan keuangan perusahaan biasanya penyebutan angka disederhanakan satuannya menjadi dalam miliaran, jutaan, dan ribuan. Jika keterangannya dalam miliaran rupiah seperti laporan laba(rugi) ASII ini, maka kita tinggal tambahkan saja angka 0 nya 9 digit dibelakang angka terakhir, lalu untuk jutaan kita tambahkan 0 nya 6 digit dan terakhir untuk ribuan 0 nya 3 digit.

Kemudian Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah biaya atau modal yang di keluarkan untuk pembuatan produk yang dihasilkan dan berhasil terjual oleh perusahaan, namun tidak termasuk biaya operasional perusahaan. Misalnya dalam hal ini ASII dalam pembuatan kendaraan bermotor maka dibutuhkan bahan baku untuk pembuatannya, dan itulah yang dimasukan sebagai HPP sebelum produk tersebut dijual ke pasar. Berdasarkan laporan laba(rugi) pada kuartal 1 2023 ASII mencatat HPP sebesar 65,2 triliun rupiah, meningkat bila dibandingkan dengan kuartal 1 2022 yang sebesar 56,1 triliun rupiah. Hal ini wajar karena penjualan perusahaan juga meningkat.  

Selanjutnya, setelah nilai penjualan di kurangi dengan HPP maka akan diperoleh laba kotor atau laba bruto, yakni keuntungan kotor sebelum di kurangi dengan biaya operasional. Dalam contoh ASII pada kuartal 1 2023 memperoleh laba kotor sebesar 17,7 triliun rupiah, meningkat bila dibandingkan dengan kuartal 1 2022 yang sebesar 15,7 triliun rupiah. Hal ini merupakan indikasi yang bagus karena peningkatan laba kotor sejalan dengan peningkatan penjualannya.

Yang termasuk dalam biaya operasional yaitu seperti beban penjualan, beban umum dan administrasi, biaya listrik dan air dan biaya lainnya seperti biaya keuangan dan biaya lain-lain. Kemudian biaya operasi ini akan ditambah dengan pendapatan operasi lainnya sehingga akan diperoleh laba usaha. Kembali lagi ke contoh ASII, setelah laba kotor/laba bruto di kurangi dengan biaya operasional dan biaya serta pendapatan lainnya, maka akan diperoleh laba operasi/laba usaha atau biasa disebut juga laba sebelum pajak sebesar 14,1 triliun rupiah pada kuartal 1 2023, meningkat bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yaitu sebesar 11,4 triliun pada kuartal 1 2022. Ini juga merupakan hasil yang bagus, karena sejalan dengan peningkatan penjualan dan laba kotor perusahaan.

Setelah diperoleh laba operasi, kemudian laba operasi ini akan dikurangi dengan beban/biaya pajak yang harus dibayar oleh perusahaan yaitu sebesar 2,5 triliun pada kuartal 1 2023 sehingga setelah memperhitungkan pajak maka didapatlah laba bersih yang dihasilkan oleh ASII selama kuartal 1 2023 sebesar 11,5 triliun rupiah, meningkat bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, yaitu kuartal 1 2022 sebesar 9,2 triliun rupiah. Tentunya pencapaian laba bersih ini juga terbilang bagus karena sejalan dengan peningkatan penjualan, laba kotor dan laba usaha/operasi perusahaan, sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa kinerja ASII pada kuartal 1 2023 lebih baik dibandingkan dengan kinerja kuartal 1 2022 dan kita bisa mempelajari laporan keuangannya lebih lanjut. 

Sedikit informasi, dalam laporan laba(rugi) biasanya terdapat akun laba periode berjalan, laba komprehensif dan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Sebagai investor individu kita fokus saja pada laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, karena laba tersebut adalah laba yang kita peroleh sebagai pemegang saham. Jadi dalam hal ini yang kita lihat/perhatikan adalah laba bersih ASII pada  kuartal 1 2023 sebesar 8,71 triliun yang meningkat dari 6,85 triliun pada dkuartal 1 2022.

Kemudian di akun paling bawah akan tertera laba bersih per saham atau yang biasa disebut EPS (Earning Per Share), yaitu laba/keuntungan yang kita peroleh dari setiap lembar saham yang kita beli/miliki (untuk pembahasan EPS akan di bahas nanti secara terpisah). Berdasarkan laporan laba(rugi) ASII pada kuartal 1 2023 laba bersih per saham nya adalah sebesar 215 rupiah per lembar, meningkat bila dibandingkan dengan kuartal 1 2022 yang sebesar 169 rupiah per lembar.

Nah itulah kira-kira penjelasan mengenai laporan laba(rugi), semoga dengan penjelasan bahasa penulis yang sederhana ini, sobat investor bisa memahami dalam membaca laporan laba(rugi) dan bisa mengetahui mana perusahaan yang bagus dan perusahaan yang kurang bagus.

Btw gak terasa ini tulisan udah panjaaang banget ternyata,   lumayan pegel ngetiknya hehe. Untuk tulisan selanjutnya penulis akan membahas bagian dari laporan keuangan yang berikutnya, yaitu laporan perubahan modal/ekuitas, laporan arus kas dan yang terakhir catatan atas laporan keuangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PER & PBV : 2 Metode Sederhana Dalam Valuasi Saham (Part 2)

Earnings Yield : Cara Sederhana Mengetahui Imbal Hasil Dari Suatu Saham

Rasio-Rasio Dasar Dalam Analisa Laporan Keuangan (Part 1)