Mengenal Bagian-Bagian Dari Laporan Keuangan Perusahaan (Part 1)

 


Minggu lalu kita sudah mengetahui bagaimana cara memperoleh laporan keuangan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui website https://idx.co.id/id, (yang belum baca bisa klik di sini). Sebenarnya jika kita mau mengeksplor situs bursa tersebut, maka kita akan memperoleh banyak informasi tidak hanya sekedar laporan keuangan saja, dan itu akan sangat membantu kita sebagai seorang investor dalam mengumpulkan berbagai data/informasi yang kita butuhkan dalam berinvestasi saham.

Lanjut, setelah kita memperoleh laporan keuangan perusahaan yang ingin kita baca dan analisis, pastinya sebagai seorang investor pemula akan sangat kebingungan, apalagi jika kita sebelumnya tidak ada basic ekonomi/keuangan, begitu banyak nya angka dan istilah yang tidak dimengerti dan bikin pusing, bingung darimana harus memulainya hehe. Untuk itu, sebelum kita membaca dan menganalisis suatu laporan keuangan perusahaan tercatat, perlu diketahui terlebih dahulu, bahwa kita harus mengetahui bahwa laporan keuangan perusahaan itu terdiri dari beberapa bagian yang dimana satu sama lainnya saling berhubungan. Mungkin bagi yang ketika SMA/SMK nya jurusan IPS atau Akuntansi dan jurusan kuliahnya Ekonomi/Keuangan setidaknya sudah tidak asing dengan bagian-bagian laporan keuangan yang akan dibahas dibawah. Namun, karena blog ini ditujukan buat para investor(calon investor) pemula yang mungkin tidak ada basic keuangan sama sekali, maka penulis akan coba membahas bagian-bagian dari laporan keuangan agar nantinya setelah memahami untuk selanjutnya bisa membaca/mempelajari laporan keuangan dengan baik.

Oke, secara umum laporan keuangan suatu perusahaan terdiri dari 5 bagian yaitu :
1. Neraca/ Laporan Posisi Keuangan
2. Laporan Laba/Rugi
3. Laporan Arus Kas
4. Laporan Perubahan Modal/Ekuitas
5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Wah banyak juga ya, kita coba bahas satu persatu dimulai dari neraca.

1. Neraca/Laporan Posisi Keuangan

Neraca adalah bagian dari laporan keuangan yang biasanya terletak di bagian paling atas. Neraca menggambarkan kondisi kekuatan keuangan suatu perusahaan, dimana kita bisa melihat/mengecek apakah perusahaan sedang dalam keadaan  sehat atau sedang dalam keadaan sakit. Neraca juga menjelaskan seberapa besar kekayaan suatu perusahaan, darimana sumber kekayaan tersebut diperoleh, seberapa banyak aset yang dimiliki, seberapa besar aset perusahaan yang dibiayai oleh hutang, dan berapa besar modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan. Simpelnya, kolom aset ini menjelaskan 'seberapa tebal' isi dompet perusahaan.
Dalam kolom Neraca, umumnya terdapat 3 komponen yaitu Aset, Kewajiban/Liabilitas dan Ekuitas. Oke, kita bahas dari Aset terebih dahulu.

A. Aset

Aset adalah segala kekayaan atau sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang bisa di konversi atau diubah menjadi cash/uang tunai. Biasanya terdapat 2 jenis aset, yaitu aset berwujud atau aset yang kelihatan (tangible asset) dan aset yang tidak berwujud atau tidak terlihat (intangible asset)
Dalam aset berwujud berisi aset lancar dan aset tidak lancar, lalu apa bedanya? Oke, jadi aset lancar adalah aset yang dapat di konversi menjadi uang tunai dalam jangka waktu kurang dari (<) 1 tahun, sedangkan aset tidak lancar adalah aset yang tidak mudah untuk di konversi menjadi uang tunai karena membutuhkan waktu yang cukup lama agar bisa di konversi menjadi uang tunai. Contoh, yang termasuk dalam aset lancar yaitu :
- Kas dan setara kas (uang tunai dalam brankas, tabungan dan deposito di bank)
- Investasi jangka pendek (investasi surat berharga seperti saham, obligasi dan reksadana)
- Piutang usaha
- Persediaan
- Pajak/Biaya dibayar dimuka
- Aset lancar lainnya
sedangkan yang termasuk aset tidak lancar diantaranya :
- Tanah dan bangunan/Aset Tetap
- Mesin dan peralatan
- Investasi pada entitas asosiasi atau ventura bersama
- Properti investasi
- Aset pajak tangguhan
- Aset tidak lancar lainnya

Kemudian yang termasuk dalam aset tidak berwujud (intangible asset) contohnya seperti :
- Goodwill 
- Hak cipta dan hak paten
- Lisensi/Merk dan lain-lain



 Contoh Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar ASII



B. Liabiltas/Kewajiban

Nah setelah kita mengenal aset, bagian selanjutnya dari neraca adalah kolom liabilitas/kewajiban. Lalu apa yang dimaksud dengan liabilitas? Liabilitas adalah utang atau segala kewajiban perusahaan yang secara hukum timbul karena adanya aktivitas/operasional bisnis yang dilakukan oleh perusahaan. Biasanya liabiltas/kewajiban ini akan diselesaikan atau dilunasi berdasarkan jatuh tempo yang telah disepakati bersama antara perusahaan dan pemberi utang. Secara garis besar, utang/kewajiban perusahaan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu utang berbunga dan utang tidak berbunga. Utang berbunga bisa bersumber dari pinjaman bank, penerbitan obligasi, medium terms notes, pinjaman sindikasi dan alternatif pembiayaan lainnya, dimana jika perusahaan mengambil utang berbunga ini, maka perusahaan akan dikenakan bunga setiap periodenya sesuai dengan kesepakatan dan jangka waktu pinjaman yang tentunya akan membebani keuangan perusahaan karena harus membayar pokok pinjaman beserta bunga nya. Sedangkan utang tidak berbunga biasanya berupa utang perusahaan kepada pihak ketiga/pemasok, yang umumnya tidak dikenakan bunga sehingga tidak akan terlalu membebani keuangan perusahaan. 

Sama seperti Aset, dalam liabilitas juga terdapat 2 jenis yaitu liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka panjang, dimana perbedaannya yaitu liabilitas jangka pendek adalah segala utang/kewajiban perusahaan yang harus dilunasi oleh perusahaan dalam jangka waktu kurang dari (<) 1 tahun, sedangkan liabilitas jangka panjang adalah utang atau sumber pendanaan jangka panjang perusahaan yang masa pelunasan/jatuh temponya lebih dari (>) 1 tahun. 

Contoh yang termasuk dalam liabilitas jangka pendek diantaranya :
- Utang usaha 
- Pinjaman bank jangka pendek
- Utang pajak
- Beban Akrual
- Liabilitas imbalan kerja
- Bagian pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo kurang dari 1 tahun
- Liabilitas sewa dan lain-lain
Sedangkan yang termasuk utang jangka panjang yaitu :
- Pinjaman bank jangka panjang
- Utang Obligasi/Medium Terms Notes
- Wesel bayar
- Liabilitas imbalan kerja jangka panjang (dana pensiun)
- Liabilitas pajak tangguhan dan lain-lain




Contoh Liabilitas Jangka Pendek dan Liabilitas Jangka Panjang ASII


C. Ekuitas 

Setelah liabilitas, bagian selanjutnya dari neraca yaitu ekuitas. Apa yang dimaksud dengan ekuitas? Ekuitas adalah hak atau kepentingan pemilik perusahaan terhadap kekayaan perusahaan, dalam hal ini adalah para pemegang saham perusahaan yang dimana ekuitas ini akan mewakili jumlah uang yang akan dikembalikan/dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan jika semua aset perusahaan di likuidasi atau perusahaan di bubarkan. 
Ekuitas ini sering disebut juga sebagai aset bersih perusahaan setelah dikurangi dengan liabilitas (kewajiban) perusahaan dalam neraca, atau sederhananya aset ini adalah modal bersih yang dimiliki sendiri oleh perusahaan setelah dikurangi utang-utang perusahaan sehingga akan diperoleh rumus persamaan akuntansi :

Ekuitas = Aset - Liabilitas atau:
Aset = Liabilitas + Ekuitas   

Dalam kolom ekuitas terdapat komponen-komponen sebagai berikut :
- Modal dasar
- Modal ditempatkan dan disetor penuh
- Saldo laba ditahan
- Komponen ekuitas lainnya



Contoh Ekuitas ASII 

Itulah kira-kira bagian-bagian yang terdapat dalam laporan neraca, dinamakan neraca karena bentuk/formatnya yang seperti timbangan dimana sisi kiri dan sisi kanan harus seimbang yang artinya jumlah total aset harus sama dengan total liabilitas+ekuitas. Dalam contoh laporan keuangan PT Astra International, Tbk (ASII) bagian neraca tercatat bahwa total aset ASII pada periode Desember 2022 sebesar 413.297 milyar, sedangkan jumlah liabilitas ASII pada periode yang sama yaitu 169.577 milyar dan ekuitas perusahaan 243.720 milyar, sehingga jika total liabilitas + ekuitas 169.577+243.720 = 413.297 milyar atau 413 triliun.

Sudah barang tentu, neraca yang baik adalah jika jumlah ekuitas lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah liabilitas, sehingga struktur permodalan perusahaan akan lebih kuat karena permodalan perusahaan tidak banyak mengandalkan utang atau pinjaman dari bank, melainkan bersumber dari modal perusahaan sendiri yang dimana nilai ekuitas perusahaan bisa meningkat jika perusahaan beroperasi secara benar karena peningkatan ekuitas yang baik adalah yang bersumber dari peningkatan laba bersih yang diperoleh perusahaan dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Seperti contoh neraca dalam laporan keuangan ASII di atas, dimana jumlah ekuitas ASII lebih besar bila dibandingkan dengan liabilitasnya, sehingga bisa dibilang bahwa struktur permodalan ASII cukup kuat dan tidak terlalu bergantung dengan utang. 

Kira-kira seperti itulah gambaran neraca beserta bagian-bagiannya, diharapkan setelah membaca tulisan ini sobat investor bisa sedikit mengerti dan memahami tentang pengertian neraca. 

Berhubung udah cukup panjaaang nulisnya plus cape ngetiknya hehe, untuk bagian yang kedua dari laporan keuangan yaitu laporan laba/rugi kita lanjutkan di tulisan berikutnya ya. 😊   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PER & PBV : 2 Metode Sederhana Dalam Valuasi Saham (Part 2)

Rasio-Rasio Dasar Dalam Analisa Laporan Keuangan (Part 1)

Earnings Yield : Cara Sederhana Mengetahui Imbal Hasil Dari Suatu Saham