IHSG dan Hubungannya Dengan Harga Saham
Jadi IHSG itu adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan yang merupakan indikator cerminan dari seluruh pergerakan saham yang listing/terdaftar di Bursa Efek Indonesia dimana saat artikel ini di tulis kurang lebih ada sekitar 800-an emiten yang jumlah nya terus bertambah setiap tahunnya dikarenakan semakin banyaknya perusahaan yang IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ketika jam bursa dibuka sampai jam bursa tutup, yaitu dari pukul 09.00 s/d pukul 15.15 WIB, IHSG selalu bergerak naik turun mengikuti pergerakan saham-saham yang listing di bursa. Dalam dunia internasional IHSG lebih dikenal dengan nama JCI (Jakarta Composite Index). Sederhananya, ketika IHSG menguat (bergerak di zona hijau) artinya mayoritas saham-saham perusahaan yang ada di bursa juga sedang mengalami kenaikan dan biasanya investor dipenuhi dengan optimisme sehingga banyak investor yang mengambil posisi beli yang mengakibatkan harga saham bergerak naik. Sedangkan sebaliknya, apabila IHSG melemah itu mencerminkan bahwa mayoritas saham-saham yang ada di bursa sedang mengalami penurunan, dan itu karena mayoritas investor diliputi dengan ke-khawatiran atau pesimisme, sehingga banyak investor yang menjual kepemilikan sahamnya yang mengakibatkan terjadinya tekanan jual terhadap IHSG.
Sejarah IHSG
IHSG pertama kali diperkenalkan ke publik pada tanggal 1 April 1983 sebagai indikator pergerakan Bursa Efek Jakarta (BEJ) (dahulu bursa di Indonesia ada 2, yaitu Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, sebelum akhirnya merger menjadi Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007) sedangkan untuk dasar perhitungan IHSG sendiri ditetapkan dari nilai 100 sebagai nilai awal yang ditetapkan pada tanggal 10 Agustus 1982. Jadi sampai artikel ini di tulis, yaitu pada Februari 2023, usia IHSG sendiri sudah mencapai 40 tahun dan per tangggal 24 Februari IHSG sendiri di tutup pada posisi 6.856,58 yang itu artinya jika dihitung dari nilai awal maka selama 40 tahun IHSG sudah mengalami kenaikan sebanyak 6.756% dengan rata-rata kenaikan 169% per tahunnya, wooowww it's amazing!!!.
Perhitungan IHSG yaitu dengan menggunakan nilai pasar (harga saham) dan nilai dasar (harga IPO) pada seluruh saham perusahaan yang tercatat, sedangkan perhitungan harga saham di IHSG adalah menggunakan harga saham di pasar regular dengan sistem lelang yang berkelanjutan. Perhitungan IHSG dilakukan setiap harinya setelah bursa tutup.
Faktor Yang Mempengaruhi Kenaikan dan Penurunan IHSG
Nah mungkin sampai disini, sobat investor bertanya, apa yang menyebabkan IHSG bergerak naik turun? Perlu diketahui bahwa pergerakan IHSG dalam jangka pendek sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti sentimen internal dan eksternal. Sentimen internal biasanya dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam hal ini kenaikan/penurunan suku bunga, kenaikan inflasi, pertumbuhan ekonomi dan situasi politik dalam negri dan tentunya dari kinerja emiten/perusahaan itu sendiri dimana bila mayoritas kinerja keuangan emiten mencatatkan performa keuangan yang baik, maka selanjutnya saham emiten tersebut akan diapresiasi oleh pasar sehingga harga saham naik begitu juga dengan IHSG. Sedangkan untuk faktor eksternal, biasanya IHSG akan dipengaruhi oleh pergerakan Indeks Bursa negara lain seperti misalnya pergerakan saham bursa di Amerika Serikat yang merupakan cerminan ekonomi dunia, suku bunga The Fed ,situasi dan kondisi politik global, harga komoditas dan lain-lain. Mengapa bisa terjadi demikian?. Itu dikarenakan sebagai negara berkembang Indonesia menjadi tujuan investasi Investor Asing karena bisa menghasilkan imbal hasil yang menjanjikan, dan porsi investasi asing di Indonesia cukup besar dan cukup memegang kendali IHSG, sehingga ketika terjadi ketidakpastian ekonomi, investor asing dengan cepat akan keluar dari Indonesia dan itu akan menyebabkan tekanan jual yang besar pada IHSG yang mengakibatkan pergerakan IHSG menjadi melemah dan tidak jarang akan membuat investor domestik menjadi panik yang akhirnya berbondong-bondong menjual sahamnya mengikuti investor asing secara besar-besaran atau yang lebih dikenal dengan istilah panic selling.
Dalam perjalanannya, kenaikan IHSG tidak selalu mulus karena pada tahun-tahun tertentu IHSG sempat mengalami kejatuhan yang sangat dalam atau mengalami market crash yang signifikan seperti pada tahun 1998 ketika Indonesia dilanda krisis moneter dan pada tahun 2008 karena kasus subprime mortgage di Amerika dimana IHSG juga terkena imbasnya, dan yang terbaru tentu masih ingat dalam benak kita ketika wabah virus corona melumpuhkan kegiatan ekonomi hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia sendiri, dimana banyak negara di dunia yang menerapkan kebijakan lockdown, sedangkan di Indonesia sendiri pemerintah menerapkan kebijakan PPKM yang membuat roda perekonomian menjadi sempat terhambat, imbasnya daya beli masyarakat melemah dan kinerja perusahaan/emiten pun mayoritas membukukan penurunan penjualan dan laba bersih, sehingga ya sudah harga saham terjun bebas dan sudah pasti IHSG pun ikutan terjun payung dari level 6.300-an pada Februari 2020 terjun bebas sampai menyentuh level terendah di 3.900 an pada April 2020 atau mengalami penurunan sekitar -38% hanya dalam waktu dua bulan.
Bisa kita lihat pada gambar grafik di atas, pada Januari 2000 IHSG masih berada di level 688 dan pada Februari 2023 posisi IHSG sudah berada di level 6856 yang itu artinya dalam 23 tahun terakhir IHSG telah menagalami kenaikan sebanyak 895,84% atau telah naik hampir 9x lipat. Kabar baiknya, jika kita perhatikan dalam jangka panjang IHSG senantiasa mengalami kenaikan, dan itu bisa terlihat setelah covid mereda dengan cepat IHSG juga recovery kembali ke level 6800 an seperti sekarang atau hanya butuh waktu sekitar 2 tahun untuk kembali ke level sebelum covid dan malah mencetak rekor tertinggi. Jadi itu menandakan bahwa berinvestasi saham di Bursa Efek Indonesia itu sangat menjanjikan, karena jika kinerja IHSG terus meningkat maka itu artinya saham-saham di Bursa juga mengalami peningkatan yang bisa jadi lebih besar dari kenaikan IHSG itu sendiri, dan IHSG juga mencerminkan perekonomian Indonesia yang terus bertumbuh dalam jangka panjang.
Hubungan IHSG dengan Harga Saham
Setelah kita melihat dan mempelajari IHSG dan ternyata IHSG itu dalam jangka panjang cenderung bertumbuh, maka sudah dipastikan bahwa saham-saham di bursa juga mengalami peningkatan harga saham yang luar biasa dalam jangka panjang, dan tentunya tidak semua saham mengalami pertumbuhan harga saham. Berikut beberapa korelasi kenaikan kinerja 3 saham perusahaan perbankan besar dibandingkan dengan kenaikan IHSG :
Komentar
Posting Komentar