Rasio-Rasio Dasar Dalam Analisa Laporan Keuangan (Part 3)

 



Di tulisan sebelumnya penulis sudah membahas mengenai rasio profitabilitas/profitability ratio (bisa di baca di sini), nah setelah kita mempelajari rasio profitabilitas ada satu lagi rasio keuangan yang wajib kita pelajari yaitu rasio solvabilitas/solvability ratio. Lalu apa sih yang dimaksud dengan solvability ratio?

3. Rasio Solvabilitas/Solvability Ratio

Adalah rasio utang yang digunakan dalam laporan keuangan perusahaan untuk mengetahui seberapa besar utang yang dimiliki atau yang harus ditanggung oleh perusahaan. Utang perusahaan bisa terdiri dari utang berbunga dan utang tidak berbunga. Contoh utang berbunga seperti utang bank, utang obligasi, utang sukuk, liabilitas sewa dan lainnya. Sedangkan utang tidak berbunga seperti utang usaha, utang pajak, beban akrual, liabilitas kontrak dan lain-lain.  Rasio solvabilitas akan sangat berguna bagi seorang investor untuk memberikan gambaran tentang kesehatan keuangan sebuah perusahaan, serta kekuatan dari struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin kuat struktur permodalan sebuah perusahaan, semakin kecil kemungkinannya perusahaan tersebut mengalami kesulitan keuangan atau mengalami kebangkrutan. Tentu perusahaan dengan keuangan yang sehat, permodalan yang kuat dan utang yang minim adalah perusahaan yang sangat disukai oleh investor karena akan memberikan rasa tenang dan nyaman ketika berinvestasi/membeli saham perusahaan tersebut. Secara umum ada 2 rasio yang biasa digunakan  dalam menganalisa rasio solvabilitas, yaitu Debt to Equity Ratio (DER) & Gearing Ratio. 

A. Debt to Equity Ratio (DER)

Adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar perusahaan di danai oleh utang dibandingkan dengan ekuitas/modal yang dimiliki oleh perusahaan. Rumus menghitung nya adalah total utang/liabilitas dibagi dengan total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Secara umum semakin rendah rasio ini semakin baik dan biasanya rasio ini ditunjukkan dengan satuan kali. Rasio DER yang baik adalah rasio yang memiliki nilai di bawah/kurang dari <1,5x dan lebih bagus lagi jika rasio DER nya menunjukkan angka <1x yang artinya perusahaan memiliki utang yang lebih kecil dibandingkan dengan modal/ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan.


B. Gearing Ratio

Jika DER memperhitungkan seluruh komponen utang/liabilitas, maka gearing ratio hanya memperhitungkan komponen utang berbunga yang dimiliki perusahaan. Jika sebuah perusahaan memiliki banyak utang berbunga dalam komponen liabilitasnya, maka laba perusahaan tersebut bisa terpengaruh karena harus membayar bunga tersebut yang akan menjadi beban keuangan perusahaan sehingga akan mengurangi laba bersih perusahaan tersebut. Investor cenderung menghindari perusahaan yang banyak memiliki utang berbunga. 
Memang, utang berbunga itu seperti pedang bermata dua, di satu sisi ketika ekonomi sedang bagus sehingga perusahaan  bisa memaksimalkan penjualannya, maka diperlukan tambahan modal agar perusahaan tersebut bisa menambah kapasitas produksinya dan salah satu cara tercepatnya adalah dengan meminjam utang ke bank atau menerbitkan obligasi. Dengan cara seperti itu maka perusahaan bisa meningkatkan penjualan dan mencetak laba dengan maksimal meskipun harus membayar bunga bank/obligasi. Namun selama penjualan dan laba yang dihasilkan lebih besar, maka beban bunga tersebut tidak akan terlalu menjadi masalah bagi perusahaan. Sebaliknya, ketika terjadi perlambatan ekonomi, dimana perusahaan kesulitan menjual produknya dan mencetak laba, maka disinilah akan terjadi masalah dimana perusahaan akan terbebani oleh beban bunga tersebut karena mau perusahaan untung/rugi perusahaan harus tetap membayar beban bunga tersebut. Apabila perusahaan sudah tidak sanggup untuk membayar bunga berikut utang pokoknya, maka perusahaan harus menjual aset nya untuk melunasi utang/pinjaman tersebut dan bila ini berlangsung terus-menerus maka lama-lama aset dan ekuitas perusahaan bisa habis dan bernilai negatif dan kemungkinan besar perusahaan berada diambang kebangkrutan.
Dengan menganalisa gearing ratio, kita sebagai investor akan terhindar dari membeli perusahaan yang memiliki utang berbunga yang besar. Gearing ratio yang baik adalah rasio yang memiliki nilai di bawah 1 (<1x)> Semakin rendah semakin bagus. 


Oke, kita langsung coba praktikkan rumus tersebut dengan menggunakan laporan keuangan ASII berdasarkan data pada kuartal 2 2023 :



Total Liabilitas (dalam triliun rupiah)     :  186.380
Total Ekuitas (dalam triliun rupiah)        :  186.346
Debt to Equity Ratio                                      1,00 x      

Total Utang Berbunga (dalam triliun rupiah)     :   78.064
Total Ekuitas (dalam triliun rupiah)                    :  186.346
Gearing  Ratio                                                           0,41 x                        

Dari perhitungan di atas, kita memperoleh informasi bahwa DER ASII memiliki nilai 1x yang artinya <1,5x sehingga bisa dikategorikan ASII memiliki angka DER yang baik dan ASII berada dalam kondisi yang sehat. Begitu pun dengan gearing ratio nya, setelah dihitung ASII memiliki angka gearing ratio 0,41x atau <1x yang artinya utang berbunga ASII kurang lebih hanya setengahnya dari total ekuitas perusahaan, sehingga kondisi keuangan ASII berada dalam kondisi yang sehat karena utang berbunga tersebut bisa di cover oleh ekuitas/modal perusahaan.

Nah, sejauh ini kita sudah mempelajari rasio-rasio dasar keuangan mulai dari rasio likuiditas, rasio profitabilitas, dan rasio solvabilitas. Harapan penulis semoga sobat investor bisa memahami dan bisa menjadi pertimbangan awal sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada suatu saham perusahaan.
Ok, di pembahasan berikutnya penulis akan coba membahas tentang pentingnya mengetahui valuasi sebuah saham perusahaan.

Happy investing! 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PER & PBV : 2 Metode Sederhana Dalam Valuasi Saham (Part 2)

Rasio-Rasio Dasar Dalam Analisa Laporan Keuangan (Part 1)

Earnings Yield : Cara Sederhana Mengetahui Imbal Hasil Dari Suatu Saham