Kenapa Harga Saham Naik dan Turun?
Nah setiap perusahaan melaporkan kinerja laporan keuangan terbarunya, maka market akan bereaksi atas laporan keuangan tersebut. Jika hasil laporan keuangan terbaru perusahaan menunjukkan peningkatan dibanding kuartal sebelumnya baik itu penjualan, laba operasi, dan laba bersih yang meningkat serta berada diatas ekspektasi investor maupun analis maka biasanya harga saham akan naik menyesuaikan dengan kinerja perusahaan, karena dalam jangka panjang harga saham suatu perusahaan akan mengikuti kinerja fundamental dari perusahaan tersebut. Dengan kata lain harga saham adalah cerminan fundamental dari perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Sebaliknya jika hasil laporan keuangan terbaru perusahaan kinerjanya menunjukkan penurunan maka harga saham akan cenderung tertekan karena banyaknya investor yang melakukan aksi jual sehingga harga saham akan turun menyesuaikan dengan kinerja terbaru perusahaan. Di sinilah peran kita sebagai seorang investor harus bisa menganalisa apakah penurunan kinerja suatu perusahaan ini bersifat sementara atau ada indikasi akan melanjutkan penurunan kinerja di kuartal berikutnya. Penurunan harga suatu saham tidak selalu berarti buruk, karena dengan turunnya harga saham maka bagi sebagian investor itu adalah peluang untuk membeli saham tersebut karena valuasi saham tersebut menjadi lebih murah dengan catatan seorang investor telah menganalisa lebih lanjut penyebab penurunan kinerja perusahaan tersebut. Apabila setelah menganalisa laporan keuangan perusahaan ternyata penurunan kinerja perusahaan tersebut bukan disebabkan oleh penurunan operasional perusahaan melainkan kinerja perusahaan turun karena lebih ke pencatatan akuntansi, maka penurunan harga saham tersebut bisa jadi adalah sebuah peluang karena jika kinerja perusahaan pada kuartal berikutnya membaik, maka bisa dipastikan harga sahamnya pun akan kembali naik.
2. Faktor Aksi Korporasi
Hal berikutnya yang menyebabkan harga saham naik/turun adalah karena aksi korporasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan. BEI mewajibkan untuk setiap perusahaan tercatat untuk melaporkan segala aktivitas atau rencana yang akan dilakukan oleh perusahaan agar investor bisa mentahui informasi dan prospek dari aksi korporasi tersebut. Terdapat banyak aksi korporasi yang biasa dilakukan oleh perusahaan diantaranya seperti right issue (penerbitan saham baru), stock split (pemecahan nilai nominal saham menjadi lebih rendah) reserve split (kebalikan dari stock split), public expose (pemaparan publik), pembagian dividen, press release, merger and acquisition, pergantian/penambahan bidang usaha utama dan lain sebagainya.
Selain faktor internal teerdapat juga faaktor eksternal yang bisa membuat harga suatu saham naik/turun diantaranya :
B. Faktor Eksternal
1. Kondisi Makro Ekonomi
Kondisi makro ekonomi suatu negara secara keseluruhan bisa mempengaruhi kenaikan/penurunan harga saham, ketika kondisi makro ekonomi seperti PDB, inflasi, dan suku bunga BI/the fed pergerakannya stabil atau menunjukkan pemulihan, biasanya akan membuat iklim investasi suatu negara menjadi lebih positif dan arus modal investor asing pun akan banyak masuk karena mereka menganggap aman untuk berinvestasi sehingga akan mendorong perusahaan untuk mencatatkan kinerja yang baik yang pada akhirnya harga sahamnya akan terapresiasi oleh investor.
2. Kebijakan Pemerintah dan Situasi Politik
Pasar modal sangat sensitif terhadap kebijakan yang dikeluarkan/ditetapkan oleh pemerintah karena itu bisa mempengaruhi industri/sektor yang merupakan bidang usaha suatu perusahaan, karena kebijakan pemerintah bisa saja menguntungkan atau malah merugikan perusahaan. Contoh kebijakan Pemerintah yang biasanya dilihat investor misalnya kebijakan ekpor-impor, bea cukai, pajak, penanaman modal asing dan lain sebagainya.
Selain itu situasi politik juga sangat berpengaruh terhadap pasar modal dalam hal ini Bursa Efek, karena investor membutuhkan jaminan keamanan dalam kegiatan berinvestasinya. Bayangkan jika kondisi politik suatu negara kacau atau terjadi peperangan misalnya seperti perang Ukraina melawan Rusia, maka dapat dipastikan pasar modalnya akan mengalami guncangan dan mengalami penurunan Indeks yang signifikan dikarenakan investor ketakutan dan akhirnya keluar dari investasi di negara tersebut karena hilangnya kepercayaan dan tidak adanya jaminan keamanan yang diberikan oleh suatu negara.
3. Kurs Rupiah Terhadap Mata Uang Asing
Faktor eksternal berikutnya yaitu karena pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, misalnya terhadap dollar Amerika, itu akan sangat berpengaruh terutama terhadap perusahaan yang sebagian besar hasil penjualannya berupa ekspor, ketika Dollar menguat maka perusahaan yang berorientasi ekspor bisa memaksimalkan keuntungan penjualan, namun dollar yang menguat juga bisa berakibat buruk untuk perusahaan yang mengambil utang bank/obligasi dalam bentuk dollar karena beban keuangan perusahaan akan meningkat
4. Panic Selling dan Manipulasi Pasar
Faktor yang terakhir yaitu karena kepanikan investor dan manipulasi pergerakan saham yang digerakan oleh market maker atau di Indonesia biasanya lebih dikenal dengan istilah bandar. Panic selling bisa terjadi ketika muncul pemberitaan negatif misalnya suku bunga the fed dinaikkan, sehingga akan memicu investor terutama investor asing untuk keluar dari emerging market (bursa negara berkembang) karena investasi di Amerika lebih menjanjikan dan lebih aman sehingga akan terjadi penjualan saham besar-besaran dan yang lebih uniknya biasanya investor lokal juga akan ikut-ikutan latah menjual sahamnya yang menyebabkan IHSG turun signifikan. Kemudian untuk manipulasi pasar biasanya terjadi pada saham-saham lapis ketiga (saham yang tidak likuid) atau biasa dikenal dengan saham gorengan yang pergerakan harganya seperti roller-coaster, naik turun dengan sangat cepat. Bandar biasanya mengerek harga suatu saham sangat tinggi sehingga akan menarik perhatian para investor ritel untuk membeli saham tersebut. Padahal tujuan bandar adalah untuk menjebak para investor ritel agar membeli di harga tinggi, dan ketika sudah banyak investor ritel yang masuk maka dengan cepat bandar akan menurunkan harga saham ke harga semula atau lebih rendah lagi sehingga investor ritel yang baru membeli tidak sempat keluar menjual sahamnya dan kalaupun sempat maka biasanya akan dijual dalam posisi rugi. Dari menjebak investor ritel itulah bandar memperoleh keuntungan.
Anyway, tulisan kali ini sudah cukup panjang dan semoga dengan membaca tulisan ini kita sebagai investor bisa lebih berhati-hati dalam membuat suatu keputusan sebelum bertransaksi di pasar modal. Kesimpulannya kenaikan atau penurunan harga saham bisa disebabkan oleh banyak faktor, dan di setiap penurunan itu selalu terdapat peluang untuk memperoleh keuntungan, tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan penurunan harga tersebut. Ok di tulisan berikutnya penulis akan coba bercerita pengalaman pertama penulis membeli saham dan reaksi penulis setelah membeli saham tersebut.
Komentar
Posting Komentar